Senin, 09 April 2012

Rumah Matahari ; Rumah Harapan ODHA


Menyandang predikat sebagai Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) bukan perkara mudah. Pada awalnya mereka yang terinveksi virus HIV memang seakan manusia yang sedang mendapatkan kutukan Tuhan. Tidak hanya persoalan virus yang secara konsisten menggerogoti kekebalan tubuh, lebih dari itu banyak diantara mereka tidak diterima dalam kehidupan sosial. Menyadari situasi atas, sekitar 20 orang ODHA yang berasal dari Pati-Grobogan-Kudus-Jepara-Rembang dan Blora tergerak membangun jejaring antar mereka. Tempat tinggal yang jauh dari kota dan tuntutan mendapatkan akses kesehatan yang layak; terutama obat, membuat mereka dipertemukan. “Pada awalnya hanya beberapa orang yang bertemu, lama-lama kami menemukan banyak teman. Ternyata orang-orang yang senasib dengan kami sangat banyak”, Terang Jumini ODHA dari Blora yang juga merupakan penggagas jaringan ODHA.

Bagi mereka, pertemuan antar sesama ODHA bukan pertemuan biasa. Pertemuan mereka menjadi istimewa. Pasalnya mereka bisa saling bercerita, saling melepaskan beban yang selama ini terpendam karena mereka merasa masih sulit mendapatkan empati orang lain. Latar belakang mereka yang beraneka ragam juga membuat pertemuan itu tidak hanya membicarakan soal virus yang menetap di tubuh mereka, tetapi juga berbagai persoalan social yang dihadapi masing-masing. Seringnya bertemu, berkumpul dan berdiskusi membuat mereka tergerak untuk membuat perkumpulan. Lalu berbagai ide muncul. Pada awalnya dimulai dari nama. Maka kemudian lahirlah sebuah perkumpulan bernama “Rumah Matahari”. Selama ini, tempat bertemu dan saling bercerita yang dilakukan mereka difasilitasi oleh Yayasan SHEEP Indonesia (YSI). Secretariat YSI Jateng di Kabupaten Pati menyediakan tempat dan sarana bagi mereka untuk bertemu. Secara rutin YSI juga mendampingin mereka dalam konteks problem-problem social dan juga soal pelayanan kesehatan termasuk akses obat.

Menyenangkan bisa mendapatkan tempat disini untuk kami bisa berkumpul dan saling cerita. Sejak virus HIV ditemukan ditubuh kami, masalah yang kami hadapi menjadi sangat banyak; mulai dari masalah keluarga, masalah social, masalah ekonomi dan juga masalah kesehatan. Jikaa berkumpul disini, kami seakan lepas dari masalah-masalah yang kami hadapi”, terang Anita. Ibu satu anak ini oleh teman-teman sesama ODHA dipilih menjadi koordinator “Rumah Matahari”. Dalam perencanaan program yang telah disepakati, perkumpulan “Rumah Matahari” ini memiliki dua program; yakni program penguatan ekonomi anggota melalui rintisan koperasi dan program penguatan kapasitas anggota melalui pelatihan-pelatihan komunikasi. “Untuk sementara, program penguatan ekonomi belum bisa kami wujudkan. Kami masih focus pada penguatan kapasitas anggota; terutama terkait dengan kemampuan anggota mengkomunikasikan maslaah HIV-AIDS ini kepada keluarga dan masyarakat luas”, papar Anita. Tanggal 16 Januari lalu merupakan pertemuan perdana di tahun 2012. Pertemuan diawali dengan sharing tentang perilaku minum obat. Hal ini penting karena aturan minum obat bagi ODHA sangat ketat; harus tepat waktu dan tidak boleh putus obat.

Dari hasil sharing mereka, kebiasaan telat minum obat masih terjadi. “ Kadang lali (lupa: jawa) mbak, tapi telate gak sampek (telatnya tidak sampai: jawa) setengah jam” ujar Jumini. Sedangkan Sri Wahyuni salah satu aanggota asal Rembang sebulan terakhir mengaku terserang flu dan demam, namun ia mempunyai cara ampuh yang menurutnya bisa membantu menjaga kesehatan dan stamina. Yakni dengan ramuan jintan hitam, cengkeh, bawang putih, dan pala. Dalam satu tahun ini, banyak yang dirasakan anggota saat bergabung dengan Rumah Matahari. “Dulu belum tahu apa – apa, sekarang tambah pengalaman. Terutama tentang minum obat”, terang Devi Anita, salah satu anggota asal Rembang. Sementara Khuzaimah mengaku setelah bergabung dengan “Rumah Matahari”, ia bisa menjaga diri. Hal ini menurutnya hasil dari diskusi dan curhat diantara mereka ketika berkumpul di YSI. Perempuan setengah baya ini merupakan anggota “Rumah Matahari” dari Kabupaten Jepara. Meskipun tempat tinggalnya jauh dari Pati, perempuan ini rutin terlibat dalam pertemuan-pertemuan “rumah matahari:. Bukan hanya perubahan, mereka berharap Rumah Matahari ke depan akan tetap ada dan menjadi ajang bagi mereka untuk berbagi informasi. Rumah Matahari diharapkan mampu menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan bagi anggotanya, terutama untuk kepercayaan diri masing – masing. Akan tetapi mereka-pun bercita-cita bisa memberikan pelayanan dan pendampingan bagi ODHA lainnya.


Tips Jika HP Terkena Air



Sangat menyebalkan bila handphone terkena air. Tidak masalah jika terkena air tidak parah (gerimis dan sejenisnya). Anda cukup mengelap HP dengan lap kering, dan HP dapat digunakan kembali. Tapi jika terkena air cukup parah (kecemplung dalam bak mandi, tersiram minuman, dll) besar kemungkinan HP rusak dan harus membeli HP baru. Tapi jangan panik terlebih dahulu, karena ada kemungkinan HP masih bisa diselamatkan bila mengikuti tips berikut :

1. Jangan hidupkan handphone

Jika HP masih hidup, segera matikan. Bila anda menghidupkan HP dalam keadaan basah bisa menyebabkan HP korslet sehingga merusak komponen didalam HP atau bahkan mati total.

2. Keluarkan Baterai, SIM Card, dan Memory card

Keluarkan semua bagian HP yang dapat dilepas. Bila handphone anda tercebur / terkena cairan seperti kopi, teh, air laut, dll; bersihkan dahulu HP dengan air untuk mencegah karat.

3. Keringkan handphone

Keringkan semua bagian HP dengan lap kering yang bersih dan lembut. Tapi jangan mengeringkan dengan hair dryer karena udara panas yang keluar dari hair dryer bisa menimbulkan uap air seperti embun di komponen-komponen kecil. Selain itu hawa panas yang keluar dari hairdrayer juga dapat menyebabkan komponen HP meleleh.

4. Timbun handphone didalam beras

Butiran-butiran beras dapat menyerap air dan aman bagi HP. Diamkan HP dan baterai didalam timbunan beras selama 1-2 hari. Paling tidak separuh bagian HP dan baterai terendam dalam butiran beras.

5. Hidupkan handphone

Setelah ditimbun dalam wadah beras selama 1-2 hari, coba hidupkan handphone anda.

Jika seluruh langkah tersebut telah Anda lakukan namun ponsel tetap mengalami kerusakan, apa boleh buat, Anda tampaknya harus mengandalkan jasa teknisi ponsel. Namun ingat, Anda harus mencari teknisi ponsel yang terpercaya.

Bagi anda yang HP-nya beresiko tinggi terkena air (misalnya bepergian saat musim hujan), lebih baik membungkus HP anda dengan plastik. Akan lebih baik jika anda membungkusnya dengan plastik klip (plastik yang biasa dipakai untuk bungkus pil). Tapi anda tidak perlu mencelupkan HP anda ke dalam air hanya untuk mencoba tips ini.
(Evi-dari berbagai sumber)




Pengantar Redaksi


Perlu Keberanian, Hidup di Tahun 2012
Keberanian berasal dari kata dasar berani. Kata yang hanya terdiri dari enam huruf ini seakan sangat sederhana. Saking sederhananya, kata ini bisa diucapkan puluhan kali oleh seseorang dalam sehari, meskipun dengan kalimat yang berbeda.
Siapa takut?. Begitu kalimat yang sering kita dengar untuk menjelaskan bahwa seseorang berani melakukan sesuatu.  Akan tetapi, diluar dunia “bibir dan kata-kata”, keberanian butuh menyimpan banyak makna. 

Buku anak berjudul “ketika hal buruk terjadi” (Penerbit Kanisius, 2003) menjelaskan bahwa berani bukan berarti tidak takut, akan tetapi berani berarti takut, tapi tepat mau melakukan apa yang harus dilakukan. Bahwa orang yang berani adalah orang yang cerdas karena ia tahu bahwa kebaikan bisa mengalahkan kejahatan. Cinta bisa mengalahkan kebencian. Dengan keberanian, kita akan memiliki energy lebih dari yang kita pikirkan. Di sebuah dunia yang lain,  kekerasan terdengar seperti ungkapan keberanian. Maka kita dengan mudah menyaksikan peristiwa-peristiwa kekerasan yang “seperti” sebuah keberanian itu: bentrok antar kelompok, pembunuhan, hingga bom bunuh diri. Keberanian, disisi ini digambarkan sebagai sebuah gairah menuju keagungan. Ia yang berani, ia yang tega dan sadis, tegas melibas dan membabat siapa saja akan mendapatkan mahkota kejayaan. Ia menjadi orang yang ditakuti, dipuja-puja sekaligus dijadikan tempat berlindung banyak orang.

Dari sudut pandang terakhir inilah kenapa John Refra Kei; seorang tokoh gengster Ibu Kota yang berasal dari Pulau Kei di Maluku Utara begitu disegani. Asumsi itu juga yang mungkin mendasari kenapa usaha memuluskan rencana pendirian Pabrik Semen di Pati harus menggunakan para preman untuk menghentikan gerakan petani yang menolak rencana itu. Memasuki tahun baru 2012, rasanya keberanian harus ditafsir ulang; utamanya bagi petani dan nelayan. Ancaman gagal panen yang kian tinggi karena bencana banjir dan berbagai hama tanaman yang acap kali membuat para petani gigit jari, meningkatnya suhu air dan tingginya gelombang yang sering membuat harapan nelayan kandas  barangkali perlu disikapi secara berani. Petani harus tetap menanam. Nelayan harus tetap melaut. Oleh karenanya, kemampuan memprediksi risiko menjadi hal penting yang harus dilakukan.

Petani dan nelayan tidak perlu meniru keberanian para preman dan gangster. Juga tidak perlu meniru keberanian Presiden Susilo bambang Yudhoyono (SBY) yang mengingkari janji kampanyenya untuk tidak akan menaikkan bahan bakar minyak (BBM) dalam masa kepemimpinannya.
Bulan depan, BBM akan naik. Fakta ini menunjukkan bahwa pemerintah kita telah memiliki peran yang besar terhadap kehidupan rakyat negeri ini; yakni membuat rakyat semakin berani. Di Tahun 2012, mari mengamini makna keberanian seperti yang diajarkan dalam buku cerita anak-anak  diatas. Keberanian John Kei, Para Preman pendukung pabrik semen dan juga keberanian SBY menaikkan harga BBM bulan depan, rasanya  bukan keberanian yang pantas kita teladani. [redaksi]

Rabu, 04 April 2012

2012

2012
Tahun 2012 bisa jadi merupakan tahun penting di abad ini. Betapa tidak; jauh sebelum tahun ini datang, tepatnya di Tahun 2009, tahun 2012 sudah menjadi pembicaraan umat manusia di dunia. Hal ini lantaran diterbitkannya sebuah film dengan judul tahun ini dan menggambarkan terjadinya “kiamat” di tahun ini. Dalam Film Ini Dikisahkan Warga dunia panik saat ramalan suku Indian Maya Inca Peru tentang kiamat menjadi kenyataan. Patung Kristus Sang Penebus yang berdiri kokoh di Rio de Janeiro, Brasil, hancur berkeping-keping. Hujan meteor berbola api disusul gempa mengguncang hebat. Yang tak kalah menggetarkan, basilika Gereja Santo Petrus di Vatikan, runtuh. Bahkan kapal perang USS John F Kennedy tak berdaya diamuk badai dan akhirnya karam. Di Indonesia film ini juga membuat heboh masyarakat. Bahkan MUI (Majelis Ulama Indonesi) Malang, Jawa Timur melarang peredaran film tersebut diwilayahnya karena dianggap menyesatkan.


Harapan
Seperti kebiasaan kehidupan di dunia, sesuatu menjadi menghebohkan sebentar, lalu kemudian muncul sesuatu yang baru yang lebih heboh, lalu yang lama dilupakan, ditinggalkan. Kehebohan film 2012 tidak berjalan lama, hingga pada akhirnya kita benar-benar memasuki Tahun 2012.
Di Kabupaten Pati, sambutan pergantian tahun dari 2011 ke 2012 juga meriah. Di alun-alun kota, pemerintah kabupaten nanggap berbagai hiburan kesenian, pesta kembang api dan beberapa lainnya. Mungkin saja, ketika pemerintah memutuskan mengursa kocek APBD untuk peringatan tahun baru. Terbersit sebuah harapan dikalangan para penentu kebijakan itu bahwa tahun 2012 akan membawa perubahan yang baik di Kabupaten Pati.

Misalnya saja soal Pilkada yang kisruh tak berujung, atau konflik kepentingan terkait pro-kontra rencana pembangunan pabrik semen di Pati Selatan yang menggantung. Pesta itu, seakan melupakan hal penting yang selama ini menjadi perdebatan di DPRD Pati bahwa APBD selalu devisit atau minus. Bahwa selama ini PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Pati ditambah dengan pendanaan dari berbagai sumber masih belum mampu menutup kebutuhan belanja daerah tiap tahun.
Masyarakat di berbagai sudut kota dan desa terutama para anak muda juga melakukan hal yang sama. Rasanya, semua orang memiliki optimisme menghadapi tahun 2012. Seperti berbagai slogan yang terpasang di spanduk-spanduk dan banner-banner di sudut kota: Tahun Baru, Harapan Baru!.


Harap-harap Cemas
Lain halnya dengan pemerintah dan para anak muda, nelayan tradisional dan para petani memiliki pandangan yang berbeda menyambut tahun baru 2012. Bagi nelayan tradisional, tahun 2012 bisa jadi tahun yang kurang menggembirakan; tangkapan ikan semakin lama tambah sepi dan ombak tinggi, sedangkan prediksi tentang mongso sepertinya sudah tidak terkendali lagi. Musim laip (paceklik ikan) dan musim nyerek (panen ikan) tidak lagi bisa ditebak jadwalnya.
Sementara dikalangan petani ancaman gagal panen semakin besar. Petani yang memiliki lahan ditepi sungai, merasa ancaman banjir sewaktu-waktu bisa datang. Banjir tidak datang, hama menyerang; mulai dari keong mas pada saat musim tanam, tikus dan wereng pada saat tanaman mulai tumbuh hingga berbuah dan yang terakhir hama burung pipit (jawa: manuk emprit) pada saat padi sudah mulai berisi. Semua ancaman hama itu berdampak pada bertambahnya biaya produksi pertanian mereka.

Di tahun lalu (2011) karena banjir, petani harus mengulangi menanam padi hingga 3 kali, bahkan ada yang 5 kali. Kehadiran hama tikus harus ditanggulangi dengan berbagai cara; mulai dari gropyokan (memburu dengan cara bersama-sama), di-kempus (melakukan pengasapan dengan belerang di sarang tikus), hingga menyetrum (memasang kabel tembaga tanpa pengaman melingkari lahan pertanian lalu dialiri listrik), sedangkan hama wereng, petani harus meramu 2-3 jenis pestisida dengan harapan wereng bisa diberangus. Hama keong mas dan brung pipit juga membutuhkan respon serius. Untuk keong mas, pemberantasan yang paling mujarab adalah menggunakan pestisida “cap tangan”; maksudnya menggunakan cara memunguti keong mas dari lahan pertanian. Pestisida pabrikan hanya mampu mengusir sementara saja. Sedangkan hama burung pipit, petani harus membeli jarring untuk mengamankan padinya yang sudah menguning. Atau harus memasang berbagai limbah weden sawah disertai penunggu yang harus bergerak kesana-kemari sambil berteriak-teriak.

Kesimpulannya, semakin bertambah tahun, tantangan hidup bagi nelayan tradisional dan petani semakin berat. Meskipun kedua kelompok masyarakat ini memiliki kontribusi yang besar terhadap kehidupan masyarakat, perhatian terhadap kedua kelompok ini sangat kecil. Di Juwana, karena perhatian terhadap nelayan tradisional hampir tidak ada, jalur transportasi mereka untuk melaut sering terampas karena tertutup parker kapal-kapal besar. Di Batangan, Tayu dan Dukuhseti semua sungai yang menjadi jalur pulang-pergi melaut dangkal dan tidak terawat. Kadang-kadang, nelayan haus mendorong perahunya jika hendak berangkat dan pulang melaut.

Sedangkan didunia pertanian, pemerintah seakan berperan sebagai sales proyek dan bantuan. Ada hama wereng, petani diberikan bantuan pestisida. Ada hama tikus, petani diberikan bantuan biaya gropyok dan alat kempus. Petani gagal panen, pemerintah memberikan bantuan benih. Sementara para PPL (petugas penyuluh lapangan) sibuk dengan berbagai proyek percontohan hingga keliling jualan pestisida dan pupuk. Ada memang program bagus seperti SL (sekolah lapang) yang focus pada pendidikan petani untuk pengendalian hama terpadu dan terakhir bahkan ada sekolah lapang perubahan iklim. Namun demikian, seperti proyek-proyek lainnya, kegiatan dilapangan sering hanya dijadikan formalitas dan minim substansi. Pemerintah, seakan tidak memiliki itikad baik untuk membuat kemajuan di dunia pertanian. Pemerintah seakan menjauhkan petani dari kemajuan pengetahuan, ketrampilan maupun teknologi. Oleh karena itu mitos bahwa petani adalah masyarakat pinggiran, bodoh tidak terpelajar menjadi berkelanjutan dan langgeng.


Redupnya Harapan
Ditengah situasi demikian, tiba-tiba pemerintah mengambil kebijakan mengejutkan. Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dinaikkan mulai Bulan April tahun ini. Alasannya harga minya dunia naik, subsidi BBM selama ini dinikmati oleh tidak hanya orang miskin dan berbagai alasan “langitan” lainnya yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat.

Gubernur Jawa Tengah; Bibt Waluyo di beberapa surat kabar bahkan berkomentar sinis terhadap respon negatif masyarakat terkait kenaikan harga BBM. “Cuma naik seharga sebatang rokok. Jangan diributkan!” (Suara Merdeka, (19/03)). Gubernur tidak mengerti bahwa kenaikan harga BBM juga akan berpengaruh terhadap kenaikan kebutuhan lainnya; mulai kebutuhan transportasi hingga kebutuhan rumah tangga. Bahkan kenaikan kebutuhan masyarakat itu mendahului kenaikan harga BBM. Harga kenaikan BBM baru diwacanakan, harga sembako sudah lebih dahulu naik.

Ditengah himpitan berbagai macam persoalan hidup, kita semua harus kembali terhimpit. Ikat pinggang harus lebih dikencangkan lagi. Semoga kita semua memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Kita perlu menunjukkan kepada pemerintah bahkan kepada dunia bahwa kita semua adalah masyarakat yang tangguh; tidak hanya dalam menghadapi ancaman bencana alam dan hama tapi juga tangguh dalam menghadapi ancaman bencana kebijakan pemerintah! 

jumprit edisi v