Menyandang predikat sebagai Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) bukan perkara mudah. Pada awalnya mereka yang terinveksi virus HIV memang seakan manusia yang sedang mendapatkan kutukan Tuhan. Tidak hanya persoalan virus yang secara konsisten menggerogoti kekebalan tubuh, lebih dari itu banyak diantara mereka tidak diterima dalam kehidupan sosial. Menyadari situasi atas, sekitar 20 orang ODHA yang berasal dari Pati-Grobogan-Kudus-Jepara-Rembang dan Blora tergerak membangun jejaring antar mereka. Tempat tinggal yang jauh dari kota dan tuntutan mendapatkan akses kesehatan yang layak; terutama obat, membuat mereka dipertemukan. “Pada awalnya hanya beberapa orang yang bertemu, lama-lama kami menemukan banyak teman. Ternyata orang-orang yang senasib dengan kami sangat banyak”, Terang Jumini ODHA dari Blora yang juga merupakan penggagas jaringan ODHA.
Bagi mereka, pertemuan antar sesama ODHA bukan pertemuan biasa. Pertemuan mereka menjadi istimewa. Pasalnya mereka bisa saling bercerita, saling melepaskan beban yang selama ini terpendam karena mereka merasa masih sulit mendapatkan empati orang lain. Latar belakang mereka yang beraneka ragam juga membuat pertemuan itu tidak hanya membicarakan soal virus yang menetap di tubuh mereka, tetapi juga berbagai persoalan social yang dihadapi masing-masing. Seringnya bertemu, berkumpul dan berdiskusi membuat mereka tergerak untuk membuat perkumpulan. Lalu berbagai ide muncul. Pada awalnya dimulai dari nama. Maka kemudian lahirlah sebuah perkumpulan bernama “Rumah Matahari”. Selama ini, tempat bertemu dan saling bercerita yang dilakukan mereka difasilitasi oleh Yayasan SHEEP Indonesia (YSI). Secretariat YSI Jateng di Kabupaten Pati menyediakan tempat dan sarana bagi mereka untuk bertemu. Secara rutin YSI juga mendampingin mereka dalam konteks problem-problem social dan juga soal pelayanan kesehatan termasuk akses obat.
“Menyenangkan bisa mendapatkan tempat disini untuk kami bisa berkumpul dan saling cerita. Sejak virus HIV ditemukan ditubuh kami, masalah yang kami hadapi menjadi sangat banyak; mulai dari masalah keluarga, masalah social, masalah ekonomi dan juga masalah kesehatan. Jikaa berkumpul disini, kami seakan lepas dari masalah-masalah yang kami hadapi”, terang Anita. Ibu satu anak ini oleh teman-teman sesama ODHA dipilih menjadi koordinator “Rumah Matahari”. Dalam perencanaan program yang telah disepakati, perkumpulan “Rumah Matahari” ini memiliki dua program; yakni program penguatan ekonomi anggota melalui rintisan koperasi dan program penguatan kapasitas anggota melalui pelatihan-pelatihan komunikasi. “Untuk sementara, program penguatan ekonomi belum bisa kami wujudkan. Kami masih focus pada penguatan kapasitas anggota; terutama terkait dengan kemampuan anggota mengkomunikasikan maslaah HIV-AIDS ini kepada keluarga dan masyarakat luas”, papar Anita. Tanggal 16 Januari lalu merupakan pertemuan perdana di tahun 2012. Pertemuan diawali dengan sharing tentang perilaku minum obat. Hal ini penting karena aturan minum obat bagi ODHA sangat ketat; harus tepat waktu dan tidak boleh putus obat.
Dari hasil sharing mereka, kebiasaan telat minum obat masih terjadi. “ Kadang lali (lupa: jawa) mbak, tapi telate gak sampek (telatnya tidak sampai: jawa) setengah jam” ujar Jumini. Sedangkan Sri Wahyuni salah satu aanggota asal Rembang sebulan terakhir mengaku terserang flu dan demam, namun ia mempunyai cara ampuh yang menurutnya bisa membantu menjaga kesehatan dan stamina. Yakni dengan ramuan jintan hitam, cengkeh, bawang putih, dan pala. Dalam satu tahun ini, banyak yang dirasakan anggota saat bergabung dengan Rumah Matahari. “Dulu belum tahu apa – apa, sekarang tambah pengalaman. Terutama tentang minum obat”, terang Devi Anita, salah satu anggota asal Rembang. Sementara Khuzaimah mengaku setelah bergabung dengan “Rumah Matahari”, ia bisa menjaga diri. Hal ini menurutnya hasil dari diskusi dan curhat diantara mereka ketika berkumpul di YSI. Perempuan setengah baya ini merupakan anggota “Rumah Matahari” dari Kabupaten Jepara. Meskipun tempat tinggalnya jauh dari Pati, perempuan ini rutin terlibat dalam pertemuan-pertemuan “rumah matahari:. Bukan hanya perubahan, mereka berharap Rumah Matahari ke depan akan tetap ada dan menjadi ajang bagi mereka untuk berbagi informasi. Rumah Matahari diharapkan mampu menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan bagi anggotanya, terutama untuk kepercayaan diri masing – masing. Akan tetapi mereka-pun bercita-cita bisa memberikan pelayanan dan pendampingan bagi ODHA lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar