2012
Tahun 2012 bisa jadi merupakan tahun penting di abad ini. Betapa tidak; jauh sebelum tahun ini datang, tepatnya di Tahun 2009, tahun 2012 sudah menjadi pembicaraan umat manusia di dunia. Hal ini lantaran diterbitkannya sebuah film dengan judul tahun ini dan menggambarkan terjadinya “kiamat” di tahun ini. Dalam Film Ini Dikisahkan Warga dunia panik saat ramalan suku Indian Maya Inca Peru tentang kiamat menjadi kenyataan. Patung Kristus Sang Penebus yang berdiri kokoh di Rio de Janeiro, Brasil, hancur berkeping-keping. Hujan meteor berbola api disusul gempa mengguncang hebat. Yang tak kalah menggetarkan, basilika Gereja Santo Petrus di Vatikan, runtuh. Bahkan kapal perang USS John F Kennedy tak berdaya diamuk badai dan akhirnya karam. Di Indonesia film ini juga membuat heboh masyarakat. Bahkan MUI (Majelis Ulama Indonesi) Malang, Jawa Timur melarang peredaran film tersebut diwilayahnya karena dianggap menyesatkan.
Harapan
Seperti kebiasaan kehidupan di dunia, sesuatu menjadi menghebohkan sebentar, lalu kemudian muncul sesuatu yang baru yang lebih heboh, lalu yang lama dilupakan, ditinggalkan. Kehebohan film 2012 tidak berjalan lama, hingga pada akhirnya kita benar-benar memasuki Tahun 2012.
Di Kabupaten Pati, sambutan pergantian tahun dari 2011 ke 2012 juga meriah. Di alun-alun kota, pemerintah kabupaten nanggap berbagai hiburan kesenian, pesta kembang api dan beberapa lainnya. Mungkin saja, ketika pemerintah memutuskan mengursa kocek APBD untuk peringatan tahun baru. Terbersit sebuah harapan dikalangan para penentu kebijakan itu bahwa tahun 2012 akan membawa perubahan yang baik di Kabupaten Pati.
Misalnya saja soal Pilkada yang kisruh tak berujung, atau konflik kepentingan terkait pro-kontra rencana pembangunan pabrik semen di Pati Selatan yang menggantung. Pesta itu, seakan melupakan hal penting yang selama ini menjadi perdebatan di DPRD Pati bahwa APBD selalu devisit atau minus. Bahwa selama ini PAD (pendapatan asli daerah) Kabupaten Pati ditambah dengan pendanaan dari berbagai sumber masih belum mampu menutup kebutuhan belanja daerah tiap tahun.
Masyarakat di berbagai sudut kota dan desa terutama para anak muda juga melakukan hal yang sama. Rasanya, semua orang memiliki optimisme menghadapi tahun 2012. Seperti berbagai slogan yang terpasang di spanduk-spanduk dan banner-banner di sudut kota: Tahun Baru, Harapan Baru!.
Harap-harap Cemas
Lain halnya dengan pemerintah dan para anak muda, nelayan tradisional dan para petani memiliki pandangan yang berbeda menyambut tahun baru 2012. Bagi nelayan tradisional, tahun 2012 bisa jadi tahun yang kurang menggembirakan; tangkapan ikan semakin lama tambah sepi dan ombak tinggi, sedangkan prediksi tentang mongso sepertinya sudah tidak terkendali lagi. Musim laip (paceklik ikan) dan musim nyerek (panen ikan) tidak lagi bisa ditebak jadwalnya.
Sementara dikalangan petani ancaman gagal panen semakin besar. Petani yang memiliki lahan ditepi sungai, merasa ancaman banjir sewaktu-waktu bisa datang. Banjir tidak datang, hama menyerang; mulai dari keong mas pada saat musim tanam, tikus dan wereng pada saat tanaman mulai tumbuh hingga berbuah dan yang terakhir hama burung pipit (jawa: manuk emprit) pada saat padi sudah mulai berisi. Semua ancaman hama itu berdampak pada bertambahnya biaya produksi pertanian mereka.
Di tahun lalu (2011) karena banjir, petani harus mengulangi menanam padi hingga 3 kali, bahkan ada yang 5 kali. Kehadiran hama tikus harus ditanggulangi dengan berbagai cara; mulai dari gropyokan (memburu dengan cara bersama-sama), di-kempus (melakukan pengasapan dengan belerang di sarang tikus), hingga menyetrum (memasang kabel tembaga tanpa pengaman melingkari lahan pertanian lalu dialiri listrik), sedangkan hama wereng, petani harus meramu 2-3 jenis pestisida dengan harapan wereng bisa diberangus. Hama keong mas dan brung pipit juga membutuhkan respon serius. Untuk keong mas, pemberantasan yang paling mujarab adalah menggunakan pestisida “cap tangan”; maksudnya menggunakan cara memunguti keong mas dari lahan pertanian. Pestisida pabrikan hanya mampu mengusir sementara saja. Sedangkan hama burung pipit, petani harus membeli jarring untuk mengamankan padinya yang sudah menguning. Atau harus memasang berbagai limbah weden sawah disertai penunggu yang harus bergerak kesana-kemari sambil berteriak-teriak.
Kesimpulannya, semakin bertambah tahun, tantangan hidup bagi nelayan tradisional dan petani semakin berat. Meskipun kedua kelompok masyarakat ini memiliki kontribusi yang besar terhadap kehidupan masyarakat, perhatian terhadap kedua kelompok ini sangat kecil. Di Juwana, karena perhatian terhadap nelayan tradisional hampir tidak ada, jalur transportasi mereka untuk melaut sering terampas karena tertutup parker kapal-kapal besar. Di Batangan, Tayu dan Dukuhseti semua sungai yang menjadi jalur pulang-pergi melaut dangkal dan tidak terawat. Kadang-kadang, nelayan haus mendorong perahunya jika hendak berangkat dan pulang melaut.
Sedangkan didunia pertanian, pemerintah seakan berperan sebagai sales proyek dan bantuan. Ada hama wereng, petani diberikan bantuan pestisida. Ada hama tikus, petani diberikan bantuan biaya gropyok dan alat kempus. Petani gagal panen, pemerintah memberikan bantuan benih. Sementara para PPL (petugas penyuluh lapangan) sibuk dengan berbagai proyek percontohan hingga keliling jualan pestisida dan pupuk. Ada memang program bagus seperti SL (sekolah lapang) yang focus pada pendidikan petani untuk pengendalian hama terpadu dan terakhir bahkan ada sekolah lapang perubahan iklim. Namun demikian, seperti proyek-proyek lainnya, kegiatan dilapangan sering hanya dijadikan formalitas dan minim substansi. Pemerintah, seakan tidak memiliki itikad baik untuk membuat kemajuan di dunia pertanian. Pemerintah seakan menjauhkan petani dari kemajuan pengetahuan, ketrampilan maupun teknologi. Oleh karena itu mitos bahwa petani adalah masyarakat pinggiran, bodoh tidak terpelajar menjadi berkelanjutan dan langgeng.
Redupnya Harapan
Ditengah situasi demikian, tiba-tiba pemerintah mengambil kebijakan mengejutkan. Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dinaikkan mulai Bulan April tahun ini. Alasannya harga minya dunia naik, subsidi BBM selama ini dinikmati oleh tidak hanya orang miskin dan berbagai alasan “langitan” lainnya yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat.
Gubernur Jawa Tengah; Bibt Waluyo di beberapa surat kabar bahkan berkomentar sinis terhadap respon negatif masyarakat terkait kenaikan harga BBM. “Cuma naik seharga sebatang rokok. Jangan diributkan!” (Suara Merdeka, (19/03)). Gubernur tidak mengerti bahwa kenaikan harga BBM juga akan berpengaruh terhadap kenaikan kebutuhan lainnya; mulai kebutuhan transportasi hingga kebutuhan rumah tangga. Bahkan kenaikan kebutuhan masyarakat itu mendahului kenaikan harga BBM. Harga kenaikan BBM baru diwacanakan, harga sembako sudah lebih dahulu naik.
Ditengah himpitan berbagai macam persoalan hidup, kita semua harus kembali terhimpit. Ikat pinggang harus lebih dikencangkan lagi. Semoga kita semua memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Kita perlu menunjukkan kepada pemerintah bahkan kepada dunia bahwa kita semua adalah masyarakat yang tangguh; tidak hanya dalam menghadapi ancaman bencana alam dan hama tapi juga tangguh dalam menghadapi ancaman bencana kebijakan pemerintah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar