Senin, 09 April 2012

Pengantar Redaksi


Perlu Keberanian, Hidup di Tahun 2012
Keberanian berasal dari kata dasar berani. Kata yang hanya terdiri dari enam huruf ini seakan sangat sederhana. Saking sederhananya, kata ini bisa diucapkan puluhan kali oleh seseorang dalam sehari, meskipun dengan kalimat yang berbeda.
Siapa takut?. Begitu kalimat yang sering kita dengar untuk menjelaskan bahwa seseorang berani melakukan sesuatu.  Akan tetapi, diluar dunia “bibir dan kata-kata”, keberanian butuh menyimpan banyak makna. 

Buku anak berjudul “ketika hal buruk terjadi” (Penerbit Kanisius, 2003) menjelaskan bahwa berani bukan berarti tidak takut, akan tetapi berani berarti takut, tapi tepat mau melakukan apa yang harus dilakukan. Bahwa orang yang berani adalah orang yang cerdas karena ia tahu bahwa kebaikan bisa mengalahkan kejahatan. Cinta bisa mengalahkan kebencian. Dengan keberanian, kita akan memiliki energy lebih dari yang kita pikirkan. Di sebuah dunia yang lain,  kekerasan terdengar seperti ungkapan keberanian. Maka kita dengan mudah menyaksikan peristiwa-peristiwa kekerasan yang “seperti” sebuah keberanian itu: bentrok antar kelompok, pembunuhan, hingga bom bunuh diri. Keberanian, disisi ini digambarkan sebagai sebuah gairah menuju keagungan. Ia yang berani, ia yang tega dan sadis, tegas melibas dan membabat siapa saja akan mendapatkan mahkota kejayaan. Ia menjadi orang yang ditakuti, dipuja-puja sekaligus dijadikan tempat berlindung banyak orang.

Dari sudut pandang terakhir inilah kenapa John Refra Kei; seorang tokoh gengster Ibu Kota yang berasal dari Pulau Kei di Maluku Utara begitu disegani. Asumsi itu juga yang mungkin mendasari kenapa usaha memuluskan rencana pendirian Pabrik Semen di Pati harus menggunakan para preman untuk menghentikan gerakan petani yang menolak rencana itu. Memasuki tahun baru 2012, rasanya keberanian harus ditafsir ulang; utamanya bagi petani dan nelayan. Ancaman gagal panen yang kian tinggi karena bencana banjir dan berbagai hama tanaman yang acap kali membuat para petani gigit jari, meningkatnya suhu air dan tingginya gelombang yang sering membuat harapan nelayan kandas  barangkali perlu disikapi secara berani. Petani harus tetap menanam. Nelayan harus tetap melaut. Oleh karenanya, kemampuan memprediksi risiko menjadi hal penting yang harus dilakukan.

Petani dan nelayan tidak perlu meniru keberanian para preman dan gangster. Juga tidak perlu meniru keberanian Presiden Susilo bambang Yudhoyono (SBY) yang mengingkari janji kampanyenya untuk tidak akan menaikkan bahan bakar minyak (BBM) dalam masa kepemimpinannya.
Bulan depan, BBM akan naik. Fakta ini menunjukkan bahwa pemerintah kita telah memiliki peran yang besar terhadap kehidupan rakyat negeri ini; yakni membuat rakyat semakin berani. Di Tahun 2012, mari mengamini makna keberanian seperti yang diajarkan dalam buku cerita anak-anak  diatas. Keberanian John Kei, Para Preman pendukung pabrik semen dan juga keberanian SBY menaikkan harga BBM bulan depan, rasanya  bukan keberanian yang pantas kita teladani. [redaksi]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar